Tampilkan postingan dengan label BANTIMURUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BANTIMURUNG. Tampilkan semua postingan

Berburu Cenderamata Kupu-Kupu Bantimurung

Rabu, 11 Januari 2012 0 komentar

KAWASAN Taman Wisata Alam Bantimurung dikenal sebagai habitat kupu-kupu yang unik dan langka seperti Papilo Androkles dan Papilo Blumei yang tak pernah dijumpai di tempat lain.


Kupu-kupu ini berterbangan di sekitar pepohonan, bunga liar maupun kawasan sungai dan danau di kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung. Banyaknya kupu-kupu Bantimurung pun akhirnya menjadi icon Maros.

Keindahan dan kecantikan kupu-kupu Bantimurung pun akhirnya banyak diawetkan sebagai cinderamata. Tak heran kini banyak dijumpai cinderamata maupun hiasan dari kupu yang dijajakan di sekitar lokasi wisata air terjun Bantimurung.


Kupu-kupu yang diawetkan untuk cenderamata itu merupakan hasil tangkapan yang kemudian dilepaskan di penangkaran hingga bertelur. Setelah bertelur kupu-kupu akan mati dengan sendirinya. Kupu yang mati inilah kemudian diawetkan untuk dijadikan cinderamata.

Sementara telur yang menempel di ranting akan menetas menjadi ulat kemudian bermetamorfoses menjadi kepompong dan akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. Tidak hanya untuk dijual di sekitar Taman Wisata Alam Bantimurung, cinderamata kupu-kupu ini juga dijadikan cinderamata untuk para tamu penting yang datang ke Maros.


Bagi yang berminat menjadikannya koleksi, cenderamata ini dijual seharga Rp 50.000 sampai dengan Rp 450.000. Terdapat beragam pilihan, mulai dari bingkai ukuran kecil berisi satu ekor kupu-kupu hingga bingkai ukuran besar yang berisi puluhan ekor kupu-kupu dengan berbagai jenis atau spesies dan tentu dengan corak yang berwarna-warni. Cenderamata ini sangat cocok menjadi pajangan dinding rumah atau kantor.

Selain kupu-kupu, ada juga cenderamatan yang terbuat dari kumbang khas hutan bantimurung yang dibuat menjadi tempat kunci. Serta beragam baju kaos bermotif khas kupu-kupu sebagai icon Bantimurung.

Kisah Cinta Toakala dan Bissudaeng

Selasa, 10 Januari 2012 0 komentar

MELANJUTKAN parikadong (cerita rakyat) Legenda Toakala, Sang Raja Kera Putih tentang Kerajaan Toale yang sekarang merupakan wilayah kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung.


Perasaan gembira pun meliputi bala tentara Toakala dengan tak sadar berteriak memanggil rajanya; "Toa... Bissudaeng, Toa.., Toa..., Bissudaeng, Toa...," sambil menggiring Bissudaeng mendekat ke arah Toakala yang sedang terkesima, perasaan Toakala menjadi tak menentu, sambil menatap Bissudaeng.

Berkatalah ia dengan suara dingin dan getar; "Semua ini terpaksa aku lakukan Bissudaeng, aku tak pernah gentar menghadapi Kerajaan Marusu dan Kerajaan Cendrana dan aku sudah siap perang. Tak ada yang bisa menghalangiku. Tidak ada yang bisa menghalangiku…!”

Suara Toakala seakan gelegar yang memenuhi langit, pekikan kera-kera pun terdengar nyaring mengiringi ketegasan Toakala. Membuat Bissudaeng dan para tentaranya menjadi takut. Suasana sakral memenuhi ruang semesta, hening sejenak ketika lamat-lamat prajurit dan kelompok kera meninggalkan mereka berdua.

Dengan perasaan sedih, Bissudaeng berkata; "Sejak pertemuan kita di arena permainan raga di Balla Lompoa, banyak putra-putra kerajaan yang hadir. Aku tak pernah lupa ketika daeng menjatuhkan bola raga di pangkuanku, peristiwa itu membuat semua orang menatapku tak terkecuali Ayahandaku. Aku berusaha menyakinkan semua orang kalau aku mencintaimu, tapi ayahku tetap ayahku, jadi aku harus patuh kepadanya."

Toakala lalu berkata; "Belum cukupkah bukti cinta itu pada semua orang ketika dengan sengaja menjatuhkan raga itu di pangkuanmu. Ingatkah engkau dengan sutra ini, aku masih menyimpannya Ndi.., menyimpanya… Selendangmu ini lebih dari hidupku..."

Di tengah pergulatan hati Bissudaeng tentang perjodohannya, kepatuhan pada Ayahandanya sekaligus cintanya yang juga mendalam pada Toakala, mengantarnya untuk sampai pada sebuah keputusan pasrah lewat tantangan yang akan dimintanya pada Toakala.
  
Bissudaeng pun berkata; "Jika demikian bisakah Daeng mengabulkan permintaanku sebagai mahar ke-permaisuri-anku?" "Apa itu Ndi?" kata Toakala menyambung pembicaraan Bissudaeng dengan sigap dan cepat. "Bendung tujuh mata air di Kerajaan Simbang dan buatkan aku permandian air terjun di Je’ne Taesa," pinta Bissudaeng terbata-bata.

Toakala menimpali dengan tegas; "Jangankan air terjun Dinda, istana berlapis emaspun akan aku buatkan!" Merasa dilematis, Bissudaeng pun berkata "Tapi aku hanya memberi waktu satu malam Daeng, kalo Kakanda tidak bisa menyelesaikannya dalam satu malam, berarti saya harus kembali ke istana".

Tanpa bicara Toakala pun mulai bekerja dengan penuh keyakinan, ia mengerjakan permintaan Bissudaeng semalam suntuk. Peluh mengalir membasahi tubuhnya, sejenak ketika permandian air terjun hampir selesai, ayampun berkokok menandakan fajar akan segera muncul. Toakala semakin gencar untuk menyelesaikan pekerjaannya namun, tiba-tiba matahari terbit, langit menjadi mendung.

Sebuah gejalah alam yang tak biasa, guntur dan petir saling menyambar, pertanda sebuah kutukan telah jatuh dari Dewata Seuwwae. Toakala berteriak histeris; “Bissudaeng..., Bissudaeng...!

Ditatapnya sang kekasih yang terakhir kali, ia tak berdaya oleh takdir, di sela tenaga yang hampir habis, tubuh Toakala perlahan ditumbuhi bulu-bulu panjang yang putih menutup seluruh tubuhnya. Dipaksakannya panggilan pada kekasihnya yang terakhir kali tapi, Bissudaeng tak lagi bisa mendengarnya, ia hanya menyambut isyarat suara itu dengan lambaian tangan.

Di depan Bissudaeng berdirilah patung seekor kera putih yang kakinya basah oleh tangis Bissudaeng yang ditinggalkan, suara-suara alam seakan terhenti tergantikan dengan suara tangis seorang perempuan cantik; “Daeng..." Isak tangis Bissudaeng memenuhi keheningan alam Benti Merrung.

*Dilatarbelakangi legenda ini, maka gerbang utama kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung berbentuk patung kera putih raksasa. Sampai sekarang, kera putih ini kadangkala terlihat di kawasan ini.

----------------------
Boting Langi *penguasa langit
Dewata seuwwae* dewa di langit
Je’ne Tae’sa*tempat yang tak pernah kering/selalu berair


Penangkaran Alam Kupu-kupu Terbesar

Jumat, 06 Januari 2012 0 komentar

KEANEKARAGAMAN jenis dan populasi kupu-kupu yang melimpah di Taman Wisata Alam Bantimurung membuat naturalis asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjulukinya "The Kongdom of Butterfly" atau kerajaan kupu-kupu.


Dalam buku Indonesian Archipelago (2009), Wallace menggambarkan keindahan ribuan kupu-kupu terbang membentuk awan dan kawanan kupu-kupu jenis Graphium Androcles berwarna putih mengilap menutupi hamparan pasir di pinggir sungai Bantimurung.

Dengan mayoritas wilayah didominasi kawasan karst, Taman Wisata Alam Bantimurung pun menjadi favorit kupu-kupu yang menyenangi kondisi lembab di kawasan wisata alam seluas 18 hektar yang selalu ramai dikunjungi ini.

Untuk menjaga populasi kupu-kupu ini, telah digalakkan penanaman pohon dan tanaman bunga yang menjadi tempat bertelur kupu-kupu. Ratusan pohon jeruk, srikaya, dan sirih hutan telah ditanam. Juga tanaman kembang sepatu dan bunga asoka sebagai pakan kupu-kupu.



Penanaman pohon dan bunga ini sebagai penyediaan pakan untuk ulat dan menjadi daya tarik terbesar kupu-kupu. Melalui kandang penangkaran ini, ulat dibiarkan seminggu sebelum dimasukkan ke tempat metamorfosis.

Setelah dua minggu, kepompong akhirnya menjadi kupu-kupu. Setelah menjadi kupu-kupu, sebagian dilepas ke alam bebas, sebagaian diawetkan untuk koleksi museum.

Selain itu, sebuah penangkaran besar juga dibangun di dekat danau buatan, area pintu masuk kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung. Penangkaran terbesar di  Indonesia untuk penangkaran yang menyatu dengan alam ini dikelola oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul).


Penangkaran ini terletak di dinding bukit kapur yang selalu lembab dan sejuk sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi kupu-kupu.

Dalam penangkaran ini juga dibangun gedung laboratorium untuk mengembang-biakkan kupu-kupu. Saat ini setidaknya terdapat 100 spesies kupu-kupu Bantimurung dan akan terus ditingkatkan.



Selanjutnya, mengembalikan spesies kupu-kupu di Maros dengan mendatangkan spesies dari luar Sulawesi. Semua ini merupakan upaya mengembalikan kejayaan Bantimurung sebagai Kingdom of Butterfly. **

Legenda Toakala, Sang Raja Kera Putih

Rabu, 28 Desember 2011 0 komentar

TOAKALA adalah sebuah parikadong (cerita rakyat) yang populer di Kabupaten Maros. Menceritakan tentang Kerajaan Toale atau hutan yang sekarang berlokasi di wilayah kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung.


Bermula ketika lahir seorang putri cantik jelita di Kerajaan Cendrana yang diberi nama Bissudaeng. Karena kecantikan dan kelembutannya, jangankan kaum lelaki pada zaman itu, binatang pun tertarik dan akrab kepadanya.

Tersebutlah seorang raja di Kerajaan Toakala yang memerintah bangsa kera, ketika sunyi melarutkan semedinya, kecapi emas di pangkuannya sesekali terdengar menghenyakkan alam Benti Merrung (nama asli Bantimurung), maka teringatlah ia kepada Bissudaeng saat pertemuanya pada pesta raga yang diadakan di Kerajaan Marusu.

Dalam semedinya ia menerawang, terdengar alunan syair lampau yang seumur dengan alam tersebut; “Ndi, sudah dua purnama kita tak bertemu, badanku gemetar hingga kelubuk hatiku, aku takkan biarkan Karaeng (Raja) mengurungmu di Istana Cendrana."

"Oh angin, sampaikan rinduku kelubuk hatinya, sebab tak bersamanya serupa dengan kematian. Jika aku tak mempersuntingmu Bissudaeng, biarlah para Dewa mengutukku. Bissu Daeng, Oh... Bissu Daeng, aku bersumpah! O... Boting Langi* Kutuklah aku menjadi kera putih jika takdirku tak bisa mempersuntingnya".

Tiba-tiba bumi berguncang, langit menyeramkan, angin bertiup kencang, petirpun menyambar menjemput sumpah Toakala. Melihat kejadian yang tiba-tiba itu bala tentara Toakala datang dengan tergopoh-gopoh penuh keheranan.

“Ada apa Toa, kenapa teriak-teriak yang menyebabkan alam bergemuruh, padahal aku sementara mengintai Bissudaeng Toa, lihatlah di istana Cendrana selalu ramai. Bissudaeng dikelilingi Tau Kabbalana (kebal senjata) Cendrana," seru kera-kara tersebut. “Tapi kita pakai akal Toa”, sambil sikapnya melirik pada tuannya, kata seekor kera, panglima dari kelompok kera tersebut.

Tiba-tiba seekor kera  meraih bende (semacam teropong) dan mengintai kerajaan Cendrana. Sambil mengelus-elus badannya, Puto Bambang Riabbo bertanya pada temannya yang memegang bende; “Siapa yang kau lihat?" Dengan berbisik Puto Manniri Ballo menjawab; "Bissu Daeng." Karena penasaran ingin melihat Bissu Daeng, kelima bala tentara Toakala itu berebut bende.

Puto Garese Ribulo berhasil merebut teropong itu, sambil menggamati, ia pun berkata dengan kesalnya; "Ede, deeeeeeeeh, ka bukan Bissudaeng, tau lolo (anak gadis) mandi di Sungai." Dengan geram Toakala memanggil tentaranya beranjak dari tempat itu.

Pada sebuah taman dekat Balla Lompoa (rumah kerajaan), terdengarlah riuh merdu suara seorang wanita. Setelah beberapa kerumunan yang melingkarinya bergeser, tampaklah  Bissudaeng dihiasi kupu-kupu, pada mahkotanya, rupannya ia sedang bermain dengan dayang-dayangnya. Tapi tak lama setelah keceriaan itu tampaklah sang putri sedang dilanda gundah gulana.

Tanrosai salah seorang dayang-dayang bertanya; “Kenapa putri tidak berusaha membujuk Karaeng untuk tidak meneruskan keinginannya menjodohkan putri dengan putra Kerajaan Marusu, bukankah putri...? Bissudaeng memotong pembicaraan Tanrosai; “Toakala maksudmu Tanrosai, Karaeng adalah ayahandaku, Toakala adalah hidupku. Tapi perjodohan ini sudah tergaris sejak aku masih dalam ayunan."

Tiba-tiba Kanang, dayang lain berbicara meskipun dengan suara yang gemetar; “Maafkan saya putri jika hamba lantang bicara, seandainya putri meninggalkan istana ini, apa yang akan terjadi?" "Perang kanang," kata Tanrosai jelas-tegas. Kanang menimpali; "Artinya jika itu gagal, Kerajaan Marusu akan memerangi Kerajaan Cendrana?"

Dengan perasaan gundah gulana, Bissudaeng meninggalkan taman itu bersama dayang-dayangnya menuju istana. Tak dinyana tiba-tiba, Bissudaeng dicegat sekelompok pasukan kera, alhasil Bissudaeng pun diculik, sambil diarak oleh sekelompok kera yang membawanya menuju jalan ke istana Kerajaan Toakala di Bantimurung.

--------------------------
Bende = semacam teropong
Benti Merrung = air meruah/bergmuruh (Bantimurung kini)
Boting Langi = penguasa langit
Dewata Seuwwae = dewa di langit
Je’ne Tae’sa = tempat yang tak pernah kering/ selalu berair
Balla Lompoa’ = rumah/istana kerajaan

Legenda Benti Merrung, Asal Mula Bantimurung

Selasa, 27 Desember 2011 0 komentar

PAPARAN tentang sejarah Bantimurung ini dimulai sejak masa Perjanjian Bungaya I dan II (1667-1669) saat Maros ditetapkan sebagai daerah yang dikuasai langsung oleh Belanda. Ketika itu, wilayah Kerajaan Maros diformulasikan dalam bentuk Regentschaap yang dipimpin oleh penguasa bangsawan lokal bergelar Regent (setingkat bupati).


Setelah itu, Maros berubah menjadi Distrik Adat Gemenschaap yang dipimpin oleh seorang kepala distrik yang dipilih dari bangsawan lokal dengan gelar Karaeng, Arung atau Gallarang. Kerajaan Simbang merupakan salah satu Distrik Adat Gemenschaap yang berada dalam wilayah Kerajaan Maros. Distrik ini dipimpin oleh seorang bangsawan lokal bergelar Karaeng.

Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa menjadi Karaeng Simbang. Ia mulai mengukuhkan kehadiran kembali Kerajaan Simbang dengan melakukan penataan dan pembangunan di wilayahnya. Salah satu program yang dijalankannya ialah dengan melaksanakan pembuatan jalan melintas Kerajaan Simbang agar mobilitas dari dan ke daerah-daerah di sekitarnya menjadi lancar.

Pembuatan jalan ini, rencananya akan membelah daerah hutan belantara. Namun, suatu waktu pekerjaan tersebut terhambat akibat terdengarnya bunyi menderu dari dalam hutan yang menjadi jalur pembuatan jalan tersebut.

Saat itu, para pekerja tidak berani melanjutkan pekerjaan pembuatan jalan. Karena suara gemuruh tersebut begitu keras. Karaeng Simbang yang memimpin langsung proyek ini lalu memerintahkan seorang pegawai kerajaan untuk memeriksa ke dalam hutan belantara asal suara itu.

Usai sang pegawai kerajaan melakukan pemeriksaan lokasi, Karaeng Simbang lalu bertanya; “Aga ro merrung?” (Bahasa Bugis; suara apa itu yang bergemuruh?).

“Benti, Puang,“ (Air, Tuanku), jawab sang pegawai tadi.

"Benti", adalah Bahasa Bugis halus atau tingkat tinggi untuk air. Kosa kata seperti ini biasanya diucapkan oleh seorang hamba atau rakyat jelata ketika bertutur dengan kaum bangsawan. Mendengar laporan tersebut, Karaeng Simbang lalu berkenan melihat langsung asal sumber suara gemuruh dimaksud.

Sesampainya di tempat asal suara, Karaeng Simbang terpana dan takjub menyaksikan luapan air begitu besar merambah batu cadas yang mengalir jatuh dari atas gunung. Beliau lalu berujar; “Makessingi kapang narekko iyae onroangngnge diasengi Benti Merrung!“ (Mungkin ada baiknya jika tempat ini dinamakan air yang bergemuruh).

Berawal dari kata Bentimerrung inilah kemudian berubah bunyi menjadi Bantimurung. Penemuan air terjun tersebut membuat rencana pembuatan jalan tidak dilanjutkan. Malah, daerah di sekitar air terjun tersebut dijadikan sebagai sebuah perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dikepalai oleh seorang kepala kampung bergelar Pinati Bantimurung.

Saat ini, Bantimurung menjadi salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Maros, begitu pula Simbang. Sedangkan air terjun Bantimurung menjadi kawasan wisata alam. Air terjun ini memiliki ketinggian kurang lebih 30 meter dari permukaan tanah dengan lebar 15 meter. Menggemuruh sepanjang tahun sehingga menjadikannya tempat rekreasi yang sangat populer.

Kesejukan Alami di Taman Wisata Alam Bantimurung

Sabtu, 17 Desember 2011 0 komentar

SENANG dengan suasana alam yang asri? Taman Wisata Alam Bantimurung menjadi pilihan berwisata yang tepat. Selama ini, Bantimurung menjadi objek andalan pariwisata Kabupaten Maros yang dipadati pengunjung di akhir pekan.


Bantimurung termasuk objek wisata yang mudah dijangkau. Dengan angkutan umum, ditempuh sekitar 3 jam. Dengan kendaraan pribadi, waktu tempuhnya hanya sekitar 2 jam. Jaraknya dari Kota Makassar, ibukota propinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) sekitar 30 kilometer, namun dari Bandara Sultan Hasanuddin, sekitar 20 kilometer. Bahkan dari Turikale, ibukota Kabupaten Maros, berjarak kurang lebih 10 kilometer.

Saat memasuki kawasan wisata yang menawarkan permandian alam ini, pengunjung disambut dengan pintu unik berbentuk kupu-kupu dengan ukuran besar. Gerbang kupu-kupu ini berwarna hitam dengan garis hijau di kiri-kanannya, ini adalah motif spesies endemik Bantimurung, papilio blumei. Di belakang gerbang kupu-kupu terdapat patung monyet putih berukuran raksaksa sebagai penanda kalau kawasan hutan di area wisata ini dulunya dihuni kera khas berbulu putih.

Setelah melewati gerbang utama ini, pengunjung akan tiba pada area parkir, loket dan pintu masuk. Tarif masuk kawasan wisata ini relatif murah, hanya Rp 10.000 untuk pengunjung dewasa, Rp 5.000 untuk pengunjung anak-anak dan Rp 20.000 untuk wisatawan manca negara. Harga karcis masuk ini jauh lebih murah jika dibandingkan dengan karcis masuk taman rekreasi sejenis.


Di dalam kawasan, pengunjung dapat menikmati air terjun yang sumber airnya berasal dari bukit yang tertutup rapat dengan pepohonan. Air yang langsung keluar dari sumber alam tersebut mengalir di antara bebatuan hitam, warna hitam dari bebatuan nampak kontras dengan air yang mengalir bening memutih. Kesejukan air dapat dimanfaatkan pengunjung untuk berendam dan berenang, apalagi tersedia dua kolam permandian.

Pengunjung juga dapat menikmati aksi berbagai jenis kupu-kupu, baik yang hidup di alam bebas maupun yang hidup dalam penangkaran. Selain itu, beragam jenis dan spesies kupu-kupu khas dan endemik dapat dinikmati di dalam museum kupu-kupu.

Kawasan ini memang dikenal sebagai habitat berbagai jenis spesies kupu-kupu langka. Bahkan Alfred Russel Wallacea, naturalis asal Inggris, menjuluki tempat ini “Kingdom of Butterfly”. Selama setahun (1856-1857), Wallacea pernah tinggal dan meneliti kupu-kupu di tempat ini.

Selain kupu-kupu, di kawasan ini juga terdapat ikan Beseng-beseng (Latin; Marosatherina Jadigesi) atau dalam bahasa Inggris disebut Celebes Rainbowfish. Ikan yang mencapai ukuran panjang 55.4 mm, juga ditemukan di sungai sungai Patunuang.


Keunikan lain kawasan wisata ini adalah terdapatnya gua-gua alam, diantaranya gua Mimpi dan gua Batu. Gua Mimpi terletak di sisi kanan sungai yang menjadi aliran air dari air terjun, sedangkan gua Batu terletak di atas air terjun. Keindahan gua terletak pada stalaktit dan stalakmit yang terbentuk dari tetesan air yang membantu. Jika disorot dengan senter, stalaktit dan stalakmit ini akan memancarkan cahaya karena bercampur dengan batu kristal.

Untuk pengunjung yang beragama Islam, di dalam kawasan wisata ini disiapkan Mushalla. Dengan desain yang unik, terbuat dari struktur beton menyerupai akar pohon dan jamur raksaksa dengan warna alami yang ditumbuhi lumut, bentuknya menyatu dengan alam.

Ciri khas lain Bantimurung adalah deretan kios cenderamata dan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai macam souvenir khas. Cendramata yang paling banyak dijajakan adalah kupu-kupu awetan yang dipajang dalam pigura kaca. Kupu-kupu ini merupakan spesies khas hasil perburuan dari kawasan wisata alam ini.


Hiasan kupu-kupu ini tidak akan mengganggu keberadaan kupu-kupu, mengingat siklus hidup kupu-kupu yang memang hanya sekitar 28 hari. Untuk harga, pigura kupu-kupu ini pun murah, berkisar Rp50 ribu sampai Rp400 ribu tergantung besarnya bingkai serta jumlah dan jenis kupu-kupu koleksinya.

Cenderamata lain yang dijajakan adalah kaos, topi, tas dan sebagainya yang juga dilengkapi gambar bermotif kupu-kupu sesuai ciri Bantimurung. Untuk harga kaos dengan motif ilustrasi atau gambar kupu-kupu dijual dengan harga Rp35 ribu untuk kaos anak-anak dan Rp50 ribu untuk kaos dewasa.

Bagi pengunjung yang tidak membawa bekal, jangan kuatir. Sebab di area parkir, sekitar loket dan sebelum pintu masuk tersedia pusat jajanan. Berbagai jenis makanan khas Bugis-Makassar dijajakan di sini, antara lain ikan bakar dan Coto Makassar. Ada juga kios-kios yang yang menawarkan jagung bakar, jagung rebus, keripik ubi, keripik pisang dan sebagainya.

[Referensi: Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan. Foto: Ilham Haimsyah dan Syahril Boby Arief]

Koleksi Spesies Khas Museum Kupu-kupu

Selasa, 13 Desember 2011 0 komentar

TAMAN Wisata Alam Bantimurung sebagai salah tujuan wisata utama di Sulawesi Selatan terkenal dengan kekayaan panorama alam dan keindahan air terjun. Selain itu, objek wisata ini menyimpan keindahan alami, termasuk beragam jenis kupu-kupu khas yang hanya ditemukan di kawasan ini.

Salah satu jenis kupu-kupu khas Bantimurung 

Jika Anda ingin mengetahui lebih banyak hal tentang kupu-kupu khas ini, berkujunglah ke Museum Kupu-kupu Bantimurung yang terletak dalam taman wisata ini. Beragam koleksi kupu-kupu yang ada dalam museum ini sudah diperbarui dengan menampilkan sedikitnya terdapat 360 ekor kupu-kupu dengan 133 spesies.

Diperbaruinya koleksi kupu-kupu ini dilakukan bukan hanya untuk mengganti koleksi kupu-kupu yang lama, namun juga penambahan koleksi kupu-kupu baru terutama spesies khas dan spesifik yang hanya dapat ditemukan di Bantimurung, Maros.

Kupu-kupu spesies khas Maros itu diantaranya yang termasuk dalam kelompok papilionidae yang hidup di kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung dan jenis atacus atlas yang selama ini hidup di Desa Laiya, Kecamatan Cendrana, Maros.

Koleksi kupu-kupu dalam museum ini sengaja diperbarui sebagai salah satu wujud komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros untuk mengembalikan kejayaan Bantimurung sebagai sebagai Kingdom of Butterfly yang di dunia terkenal sejak dahulu.

Untuk mengembalikan Bantimurung sebagai kerajaan kupu-kupu ini, Pemkab Maros juga melakukan pembudidayaan kupu-kupu melalui pengaktipan kembali penangkaran kupu-kupu di sejumlah tempat.

 
IHSYAH | BLOGSPOTISME | CELEBESPHOTO