Tampilkan postingan dengan label PATTUNUANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PATTUNUANG. Tampilkan semua postingan

Kumbang Gua dari Karst Maros

Kamis, 18 Juli 2013 0 komentar

SELAMA beberapa dekade, penelitian biologi gua di Maros telah menambah daftar panjang kekayaan biodiversitas di Indonesia khususnya biodiversitas gua. Sejak tahun 80-an, ekspedisi para caver dan peneliti Perancis di kawasan ini telah berkontribusi banyak pada pengungkapan kekayaan biodiversitas di kawasan eksotik ini.


LIPI dimulai tahun 2001, telah berkolaborasi dengan berbagai peneliti dari luar negeri juga telah secara terus menerus melakukan kegiatan penelitian di kawasan ini. Salah satu kekayaan yang menarik dan belum banyak dilirik adalah temuan beberapa jenis kumbang khas gua yang menghuni kegelapan gua-gua di Maros.

Hanya di Maros
Padah tahun 1990, Thiery Deuve melaporkan satu jenis baru yaitu Mateuius troglobioticus Deuve 1990 yang merupakan jenis kumbang daratan yang ditemukan di beberapa gua di daerah Maros. Kumbang ini ditemukan di gua-gua di sekitar Bantimurung.

Jenis ini merupakan marga baru Mateuius yang merupakan nama yang diberikan untuk seorang penelilti Dr. Mateu yang ada di Amerika. Namun pada tahun yang sama Thiery Deuve merubah nama marga baru tersebut menjadi Mateuellus. Sehingga sejak saat itu nama jenis kumbang tersebut adalah Mateuellus troglobioticus.

Kemudian, ketika ekspedisi kerjasama MNHN Paris, NHM London, IMEDEA Spanyol dan MZB, Indonesia ditemukan beberapa koleksi baru kumbang di beberapa gua.

Pada tahun 2010, Deuve kembali mempublikasikan artikel pendek tentang deskripi tentang temuan anak jenis baru yakni Mateuellus troglobioticus faillei Deuve, 2010 yang merupakan anak jenis yang berbeda dari jenis yang di kenal di kawasan Bantimurung.

Anak jenis ini diyakini dari populasi berbeda karena ditemukan di gua yang jauh dari Bantimurung yakni di daerah Menge, sekitar Gunung Bulusaraung. Anak jenis ini sendiri didedikasikan untuk kolektor kumbang ini yakni Arnaud Faille salah satu ahli kumbang yang saat ini sedang menempuh PostDoc di Munich, Jerman.

Kumbang Air
Pada tahun 1996, Spangler seorang peneliti Smithsonian Institution Washingthon mempublikasikan temuan marga dan jenis baru kumbang air dari Maros. Kumbang ini masuk dalam kelompok Coleoptera dari famili Noteridae.

Dalam jurnal Insecta Mundi Vol. 10 (1-4), Spangler mengusulkan marga baru untuk kumbang dari Maros ini dengan nama Speonoterus. Asal kata nama tersebut sendiri diambil dari bahasa Yunanai “Speos” yang artinya gua dan “noterus” yang merupakan nama marga yang menjadi acuan dari famili “Noteridae”. Secara umum, nama ini berarti marga dan jenis dari famili Noteridae yang menghuni gua.

Sebagai dasar penamaan marga tersebut, ditentukan jenis tipe yang dipakai sebagai dasar dari genus Speonoterus, jenis tersebut dikenal sebagai Speonoterus bedosae Spangler 1996.

Jenis tersebut merupakan jenis yand didedikasikan untuk Dr. Anne Bedos yang merupakan salah satu kolektor kumbang gua tersebut ketika melakukan perjalanan ke daerah Mallawa pada tahun 1985. Dari salah satu gua di Mallawa tersebut beliau mengkoleksi beberapa ekor jenis tersebut.

Kumbang ini hidup di gua yang hanya memiliki panjang sekitar 50 m, dengan beberpa kolam air di dalamnya namun tidak ada aliran air. Pada saat itu, teramati sekitar 12 kumbang yang sedang merayap di dasar genangan air sekitar 30 meter dari mulut gua. Dilaporkan juga, jenis ini teramati tidak pernah berenang (Spangler 1996).

Kumbang Khas
Setelah temuan beberapa jenis tersebut, pada tahun 2001, Deuve juga mempublikasikan jenis baru yaitu Eustra saripaensis yang merupakan salah satu jenis kumbang yang hanya ditemukan di satu gua yaitu Gua Saripa. Karena hanya ditemukan di satu gua, jenis ini diberi nama sesuai dengan nama gua tersebut yakni “saripaensis”.

Kumbang berukuran kecil ini mempunyai jumlah yang sangat sedikit. dalam setiap temuan biasanya hanya teramati satu individu. Mereka hidup di tempat yang khas yakni lorong gua yang mempunyai bahan organik yang tersebar seperti di kayu lapuk atau bambu lapuk.

Ancaman
Keberadaan kumbang-kumbang ini tentu saja tidak lepas dari berbagai ancaman. Salah satu ancaman yang cukup nyata di gua-gua di daerah Maros adalah kegiatan penelusuran gua yang kurang ramah seperti perilaku membuang sampah plastik atau sisa karbid di dalam gua.

Gua Saripa, sebagai satu-satunya habitat kumbang Eustra saripaensis merupakan salah satu gua yang sering dikunjungi berbagai kalangan untuk kegiatan penelusuran gua. Gua yang mempunyai kekayaan dan keunikan biodiversitas ini terletak di lokasi yang sangat mudah di capai dan mudah dikunjungi dan terletak di luar kawasan taman nasional sehingga upaya perlindungan terhadapa keberadaan kumbang-kumbang ini sangat minim.

Sedangkan jenis lain, karena ditemukan di beberapa gua masih mempunyai harapan dan mempunyai tingkat ancaman yang lebih rendah dan sangat berbeda dengan kondisi Gua Saripa. Sehingga, diperlukan kesadaran dan upaya nyata khususnya dari para penelusur gua untuk lebih ramah dan memperhatikan etika penelusuran gua yang menjadi pegangan para penelusur gua.

Dengan tidak membuang sampah plastik atau sisa karbid sembarangan di dalam gua, setidaknya telah berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistesm di dalam gua, selain itu melakukan penelusuran dengan ramah tidak merusak dan mengotori lingkungan gua juga upaya konkrit untuk menuju pelestarian.

[sumber: biotagua.org]

Inilah Fauna Endemik Karst Maros

Sabtu, 19 Januari 2013 0 komentar

KAWASAN karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah karst yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi. Wilayah ini sering disebut hotspot biodiversitas karst dunia.


Kepiting Gua Laba-laba Palsu atau Cancrocaeca Xenomorpha

Salah satu keanekaragaman yang terdapat di Maros-Pangkep itu adalah krustasea, golongan hewan yang mencakup jenis udang, kepiting dan lobster. Salah satu ciri khas golongan ini adalah memiliki karapas dan kaki beruas-ruas. Kepiting gua laba-laba palsu atau cancrocaeca xenomorpha adalah satu krustasea unik di antara beragam jenis krustasea yang ada di Maros-Pangkep. Seperti namanya, kepiting ini mirip laba-laba.

"Jenis kepiting ini hanya ditemukan di dalam gua di kabupaten Maros saja," tulis Daisy Wowor dan Cahyo Rahmadi, biolog dari Puslit Biologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kepada Kompas.com.

Jenis kepiting gua laba-laba palsu ini memiliki karapas dengan ukuran panjang sekitar 5,6 mm dan lebar 6,2 mm. Permukaan karapasnya halus dan tidak memiliki tonjolan yang disebut rostrum. Mata kepiting ini juga tidak berkembang baik, hanya berupa tonjolan membulat yang menyatu dengan karapas dan tak dapat digerakkan. Tak ada tanda adanya kornea dan pigmen.

Uniknya lagi, kaki kepiting ini tidak bercapit, dan langsing bak kaki laba-laba. Dengan alasan inilah jenis Cancrocaeca xenomorpha disebut sebagai kepiting gua laba-laba palsu. Kepiting gua laba-laba palsu adalah jenis endemik Maros. Spesies ini tersebar di Lubang Batu Neraka, Gua Tanette, Gua Samanggi dan Gua Sulaiman. Jenis ini tinggal di air dan sungai-sungai dalam gua.

Seperti kebanyakan hewan gua lainnya, kepiting ini tak memiliki pigmen. Tak adanya pigmen dan mata yang juga kurang berkembang adalah salah satu bentuk adaptasi di lingkungan gua yang gelap. Adapun Cancrocaeca xenomorpha adalah salah satu fauna yang terdata dalam eksplorasi LIPI ke Maros-Pangkep. Hasil eksplorasi diterbitkan dalam buku "Fauna karst dan Gua Maros, Sulawesi Selatan".

Tips Caving atau Susur Gua

Sabtu, 10 November 2012 0 komentar

CAVING atau susur gua merupakan salah satu kegiatan menarik bagi penggiat alam bebas. Bentuk kegiatan yang juga memicu adrenalin ini menuntut ketangkasan tersendiri yang harus lebih dalam dipelajari bagi penyukanya. Agar kegiatan caving atau susur gua menjadi menyenangkan, baiknya memperhatikan 10 tips caving atau susur gua dari blog belantaraindonesia.org berikut:



1. Pelajari Kondisi Gua
Sebelum pergi ke lokasi gua, cobalah untuk mempelajari segala informasi mengenai gua yang akan dikunjungi. Ini membantu Anda untuk mengetahui medan yang akan dihadapi. Cari juga informasi mengenai apa saja yang akan ditemui selama penelusuran gua, baik hal yang terburuk maupun yang terbaik.

2. Siapkan Mental dan Fisik
Hal yang tidak boleh dilupakan sebelum menelusuri gua adalah menyiapkan mental dan fisik. Jangan pernah meremehkan penelusuran Gua, terutama untuk orang yang baru pertama kali mencoba. Ada banyak hal dan rintangan yang bisa Anda temui di dalam gua. Jadi siapkan mental dan fisik sebaik - baiknya.

3. Perhatikan Fasilitas yang Ada
Jika berwisata gua bersama dengan pemandu, pastikan Anda mendapatkan perlengkapan yang lengkap, seperti helm, penerang, cover-all, sepatu, dan fasilitas lain yang diperlukan. Bila pusing mengenakan helm, pastikan Anda berada pada lorong yang aman untuk melepaskan helm sejenak, kemudian dikenakan kembali.

Jika menelusuri gua dengan sungai, pastikan Anda membawa dan mengenakan pelampung. Pakailah peralatan tersebut selama menelusuri sungai bawah tanah. Pastikan juga sang pemandu menggunakan peralatan standar. Jika pemandu mengabaikan hal ini, jangan sungkan-sungkan untuk menegur pemandu. Anda berhak untuk menegur demi keselamatan selama penelusuran. Jika terhadap keselamatan diri sendiri saja pemandu mengabaikan, bagaimana mereka akan memperhatikan keselamatan orang lain?

4. Perhatikan Setiap Detil Lorong
Selama penelusuran, nikmatilah keindahan gua. Tapi jangan lupa untuk memperhatikan setiap detil lorong gua. Amati juga serasah yang ada di dinding gua,sehingga Anda bisa membayangkan seberapa besar air yang bisa menggenangi lorong gua. Pastikan juga Anda melihat lorong - lorong gua yang tinggi dan jauh dari sungai. Ini bisa dijadikan tempat Anda berlindung bila terjadi banjir tiba - tiba.

5. Saling Mengingatkan
Perhatikan teman sesama penelusur, jika ada rintangan di depan, beritahulah kepada teman yang berada di belakang. Jangan lupa mengingatkan teman jika ada yang tidak sesuai dengan kaidah penelusuran gua. Ingatkan juga teman untuk tidak merokok di dalam gua, karena bisa mengurangi jumlah oksigen yang sudah relatif terbatas.

6. Jaga Keindahan Gua
Jika menemukan ornamen gua yang bagus dan ingin berfoto di dalam gua, pastikan Anda tidak menyentuh atau menginjak ornamen tersebut. Ini karena dengan menyentuh atau menginjak, Anda telah merusak ornamen tersebut. Jangan pula meninggalkan sampah di dalam gua.

7. Jangan Panik Bila Bertemu Binatang
Hal yang wajar terjadi ketika menelusuri gua adalah bertemu dengan hewan penghuni gua. Salah satu hewan yang bisa Anda temui adalah ular. Bila bertemu hewan melata ini, jangan panik! Biarkan ular itu tetap berada pada tempatnya, jangan ganggu hewan itu supaya tidak berpindah tempat. Anda pun lebih mudah mewaspadai begitu kembali.

Jika bertemu dengan koloni kelelawar dalam satu lorong, jangan pernah mengarahkan kamera dengan blitz secara langsung ke arah koloni tersebut. Kelelawar yang terganggu dengan kilatan cahaya bisa beterbangan dan mengganggu Anda. Pastikan juga Anda tidak mengambil atau membunuh bertemu binatang gua, seperti jangkrik, laba - laba, atau kalacemeti.

8. Perhatikan Kubangan
Selama penelusuran, mungkin akan ada banyak kubangan air di lantai gua. Semaksimal mungkin jangan menginjakkan kaki dalam kubangan tersebut. Ini karena bisa jadi di dalamnya ada binatang gua yang unik dan khas. Anda juga harus berhati - hati jika ingin menikmati mandi di dalam gua. Jangan langsung lompat ke dalam air sebelum tahu kondisi pasti dasar air.

9. SRT untuk Gua Vertikal
Khusus gua vertikal, pastikan Anda telah menggunakan SRT atau Single Rope Technique dengan benar dan telah diperiksa oleh pemandu atau teman. SRT adalah teknik yang digunakan untuk menelusuri gua vertikal, dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan vertikal.

10. Selalu Hati-hati
Selalu berhati-hati dan jangan pernah merasa hebat atau meremehkan kondisi gua. Terkadang, kondisi gua yang mudah menyimpan bahaya yang tidak pernah disadari.

Kegiatan caving atau susur gua di Indonesia menjadi menarik karena sebagai negeri yang kaya pesona alam, Indonesia memang memiliki banyak gua yang masih bisa dieksplorasi dengan ragam petualangan. Di Maros, Sulawesi Selatan, kawasan yang terkenal dengan gua-gua alami adalah Pattunuang di Desa Wisata Samangki.

Kawasan ini telah lama dikenal dan dijadikan areal camping ground oleh para pecinta alam. Kawasan ini kaya akan gua alam dengan ornamen unik dan khas.

Menyusuri Keindahan Gua Alami di Pattunuang

Jumat, 24 Februari 2012 0 komentar

KAWASAN Pattunuang merupakan kawasan taman wisata yang memiliki 40 gua. Gua-gua di kawasan ini masih asri dan alami.


Selain kaya akan ornamen-ornamen gua yang indah, gua ini juga memiliki panorama alam yang tidak kalah indahnya. Sungai yang diapit tebing yang terjal menjadi nilai tambah tersendiri bagi taman wisata ini.


Umumnya, gua yang berada di kawasan taman wisata Gua Pattunuang mudah untuk dijangkau dengan kedalaman 30 meter. Di kawasan Pattunuang ini juga terdapat berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka juga dapat Anda jumpai.


Pada akhir pekan kawasan ini banyak dikunjungi wisatawan yang menyenangi petualangan untuk melakukan camping, caving (penelusuran gua), panjat tebing atau sekedar menikmati panorama alam, sungai dan flora-fauna khas yang terdapat di dalamnya.

Tips Jelajah Hutan Dalam Wisata Petualangan

Senin, 13 Februari 2012 0 komentar

BAGI yang senang berwisata petualangan, berkegiatan alam bebas, memasuki kawasan hutan, menjadi aktifitas yang menyenangkan. Karena itu menjadi bagian dari alam bebas yang mesti ditemui.


Agar perjalanan menyusuri hutan dan menikmati keragaman kekayaan alam yang ada di sekitarnya, berikut sejumlah tips yang perlu diingat sebelum memasuki hutan.
  • Siapkan perbekalan sesuai kebutuhan. Rencanakan kegiatan dan ikuti prosedur yang berlaku. Tetap berkelompok, jangan mengasingkan diri.
  • Siapkan sikap dan mental. Jangan mudah panik, disiplin, berpikir jernih, dan optimis agar selalu waspada dan membuat keputusan dengan tenang. Siapkan keyakinan dan kepercayaan diri. Miliki kemampuan belajar dari pengalaman dan alam sekitar, pengetahuan lingkungan rimba, laut, serta pengetahuan cukup pada biologi dan ekologi.
  • Pelajari tumbuhan yang bisa dikonsumsi dan dijadikan obat. Konsumsi tumbuhan yang sudah dikenal dan masak lebih dahulu agar aman. Jangan mengkonsumsi tumbuhan dengan warna yang menyolok (biasanya putih atau kuning), berbau tidak enak, dan tidak memiliki getah susu. Biasanya tumbuhan berbahaya hidup menyendiri, berduri dan pahit.
  • Tumbuhan yang bisa dikonsumsi, di antaranya : gadung (Uwi, dioscorea hispida), buah senggani (harendong, malastoma polyantum), sintrong atau gynura arrantiaca, rebung bambu, pisang, jamur kuping, dan jamur tiram. Sebagai saran, jadikan kelapa sebagai menu utama agar aman untuk bertahan hidup.
  • Ketahui tumbuhan obat sebagai pengobatan pertama (P3K). Simplisia nabati atau tumbuhan obat banyak hidup di alam Indonesia. Biasanya diketahui dari mulut ke mulut dan menjadi obat tradisional masyarakat.
  • Beberapa tumbuhan obat yang biasa digunakan di antaranya: Daun kaki kuda atau antanan untuk obat sariawan, batuk, sakit perut. Daun dan biji muda kaliandra bisa digunakan untuk obat sariawan. Daun sembung manis untuk sakit perut dan panas. Ki Urat, numpong, getah kamboja untuk mengobati luka, bengkak, keseleo.
  • Hati - hati dengan beberapa tumbuhan di bawah ini, terutama jika kontak langsung dengan bagian tubuh Anda. Di antaranya: Pulus atau kemadu, ingas atau rengas, raweh atau rarawean, dan buah aren mentah, yang akan menimbulkan iritasi kulit, gatal-gatal, kulit panas dan bengkak. Biji jarak membuat kepala pusing, selalu buang air besar, dan muntah-muntah. Bunga dan daun kecubung, jamur psilocybe sp dapat menimbulkan halusinasi. Seluruh bagian pohon picung atau pangi dan jamur amanita verna sangat beracun dan mematikan.
  • Ketahui jenis hewan yang bisa dijadikan makanan. Pelajari habitat, bentuk fisik, makanan, pola tingkah hewan itu, dan cara menangkapnya. Hewan lebih sulit ditemukan daripada tumbuhan sebagai sasaran makanan. Sebagian besar binatang liar bisa dikonsumsi. Tetapi hindari hewan yang memiliki duri, memiliki alat penyengat, berwarna menarik dan menyolok, dan serangga yang memiliki bulu. Sebagai saran, berburu ikan itu lebih aman.
  • Sebaiknya hindari beberapa hewan di bawah ini. Karena mengandung racun dan berbahaya bagi keselamatan manusia. Di antaranya: Nyamuk agas, biasa hidup bergerombol di rawa dan rimba. Nyamuk malaria, penyebab penyakit malaria. Gigitan semut api yang biasa merayap di tanah dan dedaunan, membuat panas dan gatal pada kulit. Sengatan lebah atau tawon, kalajengking, lintah atau pacet, dan kelabang. Terutama hindari kontak dengan harimau, macan, ular dan buaya.
  • Jagalah kaki tetap kering, karena beresiko infeksi jika basah terlalu lama disebabkan air yang tidak higienis. Konsumsi air jernih dan telah dimasak. Jika terpaksa minum air mentah, maka gunakan daun lebar untuk mengumpulkan air hujan atau embun. Potongan bambu biasa digunakan untuk menampung air hujan.
  • Gunakan kayu bakar dari pepohonan dan tumbuhan yang mengandung terpetin, seperti ranting kering, kayu kering, getah pohon pinus, dan getah pohon damar. Buatlah api untuk penerangan, penghangat, memasak, penghilang takut, menghindari hewan buas, dan sebagai alat isyarat bagi orang lain.
  • Jika anda tersesat, usahakan kembali ke jalur semula. Gunakan tanda sebagai jejak ketika telah melewati jalur tertentu, di ranting, pohon, atau tanah. Berjalanlah di punggung gunung, biasanya jalur daki menggunakan punggungan sebagai jalur. Hindari jalur lembah yang akan membuat anda sulit dilihat orang lain. Turunlah ke sungai hanya untuk mengambil air, karena binatang liar menjadikan sungai sebagai sumber kehidupan mereka.
Secara umum, patut dipahami kalau hutan, baik geografis atau tipologis, memiliki keadaan dan tantangan lingkungan berbeda. Keadaan alam liarnya menjadi daya tarik para penikmat alam.

Bagaimanapun alasannya, kehidupan di alam bebas memiliki berbagai kemungkinan dan keadaan tidak menentu. Mulai dari kondisi tanah, cuaca, hewan, tumbuhan, air terbatas, terutama kemampuan adaptasi manusia.

Pengetahuan keadaan tak menentu ketika berada di alam bebas, disebut jungle survival, sangat dibutuhkan para petualang walau sekadar menyalurkan hobi. Kemampuan diri sangat menunjang keselamatan, sekaligus agar wisata alam liar kita berjalan baik. Semoga tips sebelum memasuki hutan ini bisa diterapkan.

Tentu saja, banyak hal yang tak disebut dlaam tips di atas bisa terjadi secara mendadak, karena alam tak bisa ditebak, karenanya tetaplah berhati-hati. Selamat berpetualang!

[Referensi: Anda Ingin Jelajahi Hutan? Ini Tipsnya
http://himpalaunas.com/artikel/etalase/2012/01/08/anda-ingin-jelajahi-hutan-ini-tipsnya]

Leang Pute, Gua Vertikal Terdalam di Indonesia

Jumat, 30 Desember 2011 0 komentar

LEANG (Gua) Pute adalah gua vertikal yang tercatat memegang rekor gua terdalam di Indonesia, kedalamannya sekitar 260-270 meter. Gua ini bersifat single pitch, diameter mulut guanya atau entrance-nya kira-kira seluas 60-80 meter. Pintu masuk gua terletak di Dusun Pattiro, Desa Labuaja namun jalur guanya lebih banyak berada dalam wilayah Desa Wisata Samangki, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.


Kawasan Samangki di Maros memang terkenal dengan kawasan karst, yaitu kawasan dengan batuan kapur yang sangat luas.

Ada dua jalur yang dapat digunakan untuk menuruni lubang ini, yaitu; long pitch dan melalui lubang Dinosaurus yang merupakan teras gua. Perjalanan menyusuri Gua Leang Pute dimulai dari Desa Pattiro, tempat camp terdekat dari mulut gua.

Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki dengan menyusuri setapak demi setapak jalan sampai area persawahan. Untuk para petualang ekstrem, gua Leang Pute adalah tempat yang sangat menarik untuk dieksplor, simak saja pengalaman seorang mahasiswa pecinta alam ini:


Wow..! Itu kata pertama yang saya ucapkan ketika menolehkan kepala ke bawah dasar gua dari pinggiran mulut gua. Sempat terlintas bayangan yang mengerikan pada saat itu, karena ini pengalaman yang pertama kalinya saya memasuki gua yang begitu dalam.

Apalagi saat saya memasang alat (rack) untuk menuruni gua ini, jantung langsung berdebar kencang  karena tali ini begitu berat untuk di pasangkan ke alat yang saya pergunakan. Namun dengan perlahan akhirnya saya menuruni gua ini dengan penuh kecemasan sambil menoleh ke atas dan kebawah berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Untuk menghilangkan perasaan takut, saya terus menerus memotivasi diri dengan mencoba meyakinkan diri bahwa saya bisa menjejaki kaki di dasar gua ini. Saat menuruni, saya mencoba menikmati pemandangan dengan mengamati  sekitar dinding gua yang memiliki bermacam bentuk ornamentnya,  ada yang seperti tangan, kepala dan bentuk lainnya yang sifatnya abstrak .

Sekitar lebih dari 1 jam bergelantungan di seutas tali akhirnya saya menapaki kaki di dasar gua Leang Pute, rasa bangga dan senang pun menyelimuti diri, pepohonan yang tadinya kecil sekali bila di lihat dari atas ternyata lumayan besar juga setelah saya melihat langsung.


Dasar gua ini hampir seluas stadion bola yang memiliki dasar yang berkontur karna rekahan-rekahan bebatuan Pada waktu mengelilingi dasar gua, saya menemukan berbagai macam hewan seperti ular, laba-laba, kaki seribu yang besar, katak dan lainnya. Saya tak menyangka betapa dahsyatnya alam ini, ternyata di dalam gua yang dalam ini bamyak terdapat mahkluk hidup.

Setelah satu malam berada di dasar gua akhirnya saatnya untuk kembali ke atas dengan mempergunakan alat yang saya bawa. Waktu itu masih siang hari, saya menaiki gua Leang Pute tak perlu memakai alat bantu pencahayaan seperti senter, karena sinar matahari menembus ke dalam gua. Sangat indah pemandang dinding gua itu,  terlihat  gemerlap  oleh cahaya matahari.

Perlahan-lahan saya menaiki tali sambil memandang kagum ke sekitar gua. Sesekali saya istirahat sambil meminum jus untuk memulihkan tenaga. Ternyata cukup melelahkan menaiki gua vertical ini. Sekitar hampir dua jam barulah sampai pada bibir gua. Bagi saya, ini adalah salah satu pengalaman yang sangat seru dan tak pernah bisa terlupakan seumur hidup.

[Referensi: Himpala Unas, Tegangnya Bergelantungan di Gua Leang Pute, 2010. Foto: Himpala Unas dan slide Dr Yayuk R. Suhardjono, TN Babul]

Gua Saripa: Lorong, Kristal dan Fauna Spesifik

Kamis, 29 Desember 2011 0 komentar

BAGI para penelusur gua dan pemanjat tebing, nama Gua Saripa tentu tidak asing lagi. Begitu juga bagi para peneliti keanekaragaman fauna gua, Gua Saripa merupakan salah satu gua yang mempunyai kekayaan variasi habitat paling tinggi dan sekaligus mempunyai kekayaan fauna gua yang paling tinggi pula.


Gua Saripa yang berada di Dusun Tadeang, Desa Samangki ini, terletak sangat dekat dengan jalan poros Makassar-Bone, sehingga mudah diakses untuk mencapai gua tersebut. Dengan mulut gua cukup besar, gua ini mempunyai lorong yang sangat rumit dan berliku-liku dengan panjang sekitar 1500 meter.

Beberapa lorong gua berakhir dengan sebuah danau ataupun genangan air yang sudah tidak memungkinkan untuk ditelusuri lagi. Sebaliknya, lorong-lorong yang berliku ini juga mempunyai ornamen-ornamen gua yang sangat indah dengan kristal kalsit yang memancarkan cahaya berkilauan.


Beberapa lorong didominasi oleh lumpur yang tebal dan juga bongkahan-bongkahan batu yang tajam. Selain itu, beberapa tempat ditemukan kolam-kolam yang dihuni oleh berbagai jenis fauna akuatik. Lorong gua yang bertingkat-tingkat ini semakin menambah daya tarik bagi para penggemar penelusuran gua dan sekaligus menjadi ancaman bagi kelestarian keseimbangan ekosistem di dalamnya.

Di dalam gua ini, terdapat fauna khas yang hidup dalam lingkungan spesifik, seperti kaki seribu. Kaki seribu ini biasa ditemukan di lorong yang berlumpur dan sangat minim sumber makanan. Ada kumbang gua yang mempunyai habitat spesifik di bawah batang kayu lapuk.


Selain itu, juga terdapat udang khas gua dan planaria di kolam-kolam air. Meski populasi udang ini mulai berkurang, namun masih dapat disaksikan beberapa udang yang berenang di kolam-kolam. Kadangkala, di kolam itu juga terdapat species ikan langka Bostrychus sp.2 yang bermata buta.


Dengan pertimbangan tingginya kekayaan fauna gua dan sekaligus keunikan yang dimiliki Gua Saripa, kelestarian dan ekosistemnya harus tetap dipertahankan. Gua Saripa sebagai tujuan wisata terbatas atau sebagai laboratorium ekosistem gua dapat dijadikan sebagai satu model percontohan pengelolaan gua yang berbasis pada keanekaragaman habitat dan fauna.

Jangan ambil sesuatu kecuali gambar. Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki.

[Rangkuman dari berbagai sumber. Foto: dokumentasi Pecinta Alam Balank]

Mengamati Kehidupan Tarsius Spectrum di Pattunuang

Jumat, 23 Desember 2011 0 komentar

PERNAH dengar hewan bernama Tarsius Spectrum? Tarsius adalah binatang unik dan langka, termasuk jenis hewan primata primitif (Prosimii) dari famili Tarsidae yakni jenis primata endemik Indonesia. Primata kecil ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia (meskipun satwa ini bukan monyet) ini dapat ditemukan di pulau Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.


Di dunia, sedikitnya terdapat 9 jenis Tarsius, 2 jenis berada di Filipina sedangkan 7 jenis terdapat di Indonesia, khususnya pulau Sulawesi. Jenis Tarsius yang terdapat di Indonesia yang paling dikenal adalah jenis Tarsius Tarsier (Binatang Hantu/Kera Hantu) dan Tarsius Pumilus (Tarsius kerdil, Krabuku kecil atau Pygmy tarsier). Kesemua jenis tarsius ini termasuk binatang langka dan dilindungi.

Nama Tarsius diambil berdasarkan ciri fisik tubuhnya yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki yang membuatnya mampu melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Tarsius juga memiliki ekor panjang yang tidak berbulu, kecuali pada bagian ujungnya. Setiap tangan dan kaki hewan ini memiliki lima jari yang panjang. Jari-jari ini memiliki kuku, kecuali jari kedua dan ketiga yang memiliki cakar.

Tarsius hanya memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan berat sekitar 80 gram. Bahkan Tarsius pumilus atau Pygmy tersier yang merupakan jenis tarsius terkecil hanya memiliki panjang tubuh antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 milimeter. Karenanya Tarsius disebut sebagai primata mungil.

Ciri-ciri fisik tarsius yang unik lainnya adalah ukuran matanya yang sangat besar. Ukuran mata Tarsius lebih besar ketimbang ukuran otaknya. Ukuran matanya yang besar ini sangat bermanfaat bagi makhluk nokturnal (melakukan aktifitas pada malam hari), sehingga mampu melihat dengan tajam dalam kegelapan malam. Tarsius juga memiliki kepala yang unik karena mampu berputar hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri seperti burung hantu. Telinga satwa langka ini pun mampu digerak-gerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa.


Sebagai makhluk nokturnal, Tarsius hanya beraktifitas pada sore hingga malam hari sedangkan siang hari lebih banyak dihabiskan untuk tidur. Oleh sebab itu Tarsius berburu pada malam hari. Mangsanya yang paling utama adalah serangga, seperti kecoa dan jangkrik. Namun terkadang satwa ini juga memangsa reptil kecil, burung, dan kelelawar.

Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon dengan lompatan hingga sejauh 3 meter. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah.

Di Indonesia, habitat Tarsius adalah di hutan-hutan Sulawesi, salah satunya di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Di sini wisatawan secara mudah dan teratur bisa menikmati satwa unik di dunia itu. Di kawasan ini, Tarsius lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan “balao cengke” atau “tikus jongkok” dalam bahasa Indonesia. Karena masyarakat setempat melihatnya lebih mirip tikus daripada kera.

Nah, jika senang berwisata alam atau bertualang, cukup pergi ke Desa Wisata Samangki dan menyusuri kawasan Pattunuang. Di kawasan ini kehidupan satwa unik dan langka jenis Tarsius Spectrum, selain hidup dalam penangkaran yang dibangun oleh Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk penelitian, hewan ini juga dapat diamati langsung di habitatnya yang alami dan terjaga. **

 
IHSYAH | BLOGSPOTISME | CELEBESPHOTO